Dalam statistika ada dua statistik
yang seringkali dipakai sebagai perbandingan, yaitu rerata dan varians. Jika
membandingkan rerata antar dua kelompok kita akan mendapatkan informasi mana
kelompok yang memiliki skor lebih tinggi, maka pada uji homogenitas kita akan
mendapatkan informasi mana kelompok yang memiliki data bervariasi. Seringkali
peneliti kurang memahami hal ini sehingga saya mencoba menulis sedikit mengenai
hal ini.
Mengenal Varians Data
Setiap data kuantitatif memiliki keragaman yang
ditunjukkan dengan nilai varians. Misalnya data kita berupa skor hasil
pengukuran, semakin besar nilai varians semakin bervariasi skor tersebut.Gambar di bawah ini menunjukkan dua skor hasil pengukuran, yaitu keyakinan (belief) dan kepercayaan (trust). Terlihat dari gambar tersebut distribusi skor keyakinan lebih luas dibanding dengan skor kepercayaan. Dengan kata lain, skor keyakinan lebih bervariasi dibanding dengan skor kepercayaan.
Uji Homogenitas dalam Uji Perbedaan Rerata
Salah satu syarat untuk menghasilkan
estimasi yang akurat dalam uji perbedaan, misalnya uji-t dan anova, data
diasumsikan homogen. Misalnya kita membandingkan keuletan remaja di desa dan di
kota, nilai varians skor keuletan diharapkan sama. Jadi untuk membandingkan
rerata, kita membandingkan dulu variansnya. Nah membandingkan varians inilah
yang dinamakan dengan uji homogenitas.
Mana Data yang Lebih Bervariasi ?
Berikut ini saya mengajak untuk
membandingkan variasi dua populasi kelompok. Secara teoritik manakah yang lebih
bervariasi datanya ?
1. Kebutuhan untuk mendapatkan terapi. Antara klien yang direhabilitasi di rumah sakit dengan klien yang ditangani di biro pelayanan psikologi, mana yang lebih bervariasi ?
Secara teoritik, klien di biro pelayanan psikologi lebih bervariasi. Karena klien yang ditangani di biro konsultasi lebih beragam tingkat gangguannya dibanding dengan yang di rumah sakit.
1. Kebutuhan untuk mendapatkan terapi. Antara klien yang direhabilitasi di rumah sakit dengan klien yang ditangani di biro pelayanan psikologi, mana yang lebih bervariasi ?
Secara teoritik, klien di biro pelayanan psikologi lebih bervariasi. Karena klien yang ditangani di biro konsultasi lebih beragam tingkat gangguannya dibanding dengan yang di rumah sakit.
2. Kecenderungan delikuensi. Antara remaja di lembaga
pemasyarakatan dengan remaja di pondok pesantren, mana yang lebih bervariasi?
Secara teoritik sama, keduanya tidak bervariasi. Kecenderungan delikuensi remaja di LP rata-rata tinggi sedangkan remaja di pondok pesantren cenderung rendah. Kecenderungan delikuensi akan bervariasi tinggi ketika kita mengukur langsung pada remaja-remaja di luar kedua lembaga tersebut.
Secara teoritik sama, keduanya tidak bervariasi. Kecenderungan delikuensi remaja di LP rata-rata tinggi sedangkan remaja di pondok pesantren cenderung rendah. Kecenderungan delikuensi akan bervariasi tinggi ketika kita mengukur langsung pada remaja-remaja di luar kedua lembaga tersebut.
3. Kemampuan Pengatasan Masalah. Antara subjek yang mendapatkan
pelatihan dan yang tidak, manakah yang lebih bervariasi?
Secara teoritik variasinya sama. Pengatasan masalah kelompok yang mendapatkan pelatihan (kelompok eksperimen) skornya cenderung tinggi semuanya, sedangkan yang tidak mendapatkan pelatihan (kelompok kontrol) skornya cenderung rendah atau sedang.
Jika pelatihan yang diberikan hanya berhasil pada subjek-subjek tertentu saja, maka kemampuan pengatasan masalah pada kelompok eksperimen variasinya lebih tinggi dibanding dengan kelompok kontrol.
Secara teoritik variasinya sama. Pengatasan masalah kelompok yang mendapatkan pelatihan (kelompok eksperimen) skornya cenderung tinggi semuanya, sedangkan yang tidak mendapatkan pelatihan (kelompok kontrol) skornya cenderung rendah atau sedang.
Jika pelatihan yang diberikan hanya berhasil pada subjek-subjek tertentu saja, maka kemampuan pengatasan masalah pada kelompok eksperimen variasinya lebih tinggi dibanding dengan kelompok kontrol.
Contoh-contoh Kasus
Kasus 1. Membandingkan Kemampuan
Akademik
Misalnya kita membandingkan kemampuan akademik antara siswa akselerasi dengan siswa non akselerasi. Kita mengambil dua kelas akselerasi di sekolah A yang menyediakan kelas akselerasi dan dua kelas di sekolah B yang tidak menyediakan kelas akselerasi.
Tentunya data yang didapatkan akan memiliki variasi yang berbeda. Kenapa bisa lebih bervariasi? Karena di sekolah B siswa dengan kecerdasan sedang dan tinggi jadi satu, sedangkan di sekolah A, sebagian besar adalah siswa dengan kecerdasan tinggi. Solusinya adalah membandingkan siswa di sekolah yang sama.
Misalnya kita membandingkan kemampuan akademik antara siswa akselerasi dengan siswa non akselerasi. Kita mengambil dua kelas akselerasi di sekolah A yang menyediakan kelas akselerasi dan dua kelas di sekolah B yang tidak menyediakan kelas akselerasi.
Tentunya data yang didapatkan akan memiliki variasi yang berbeda. Kenapa bisa lebih bervariasi? Karena di sekolah B siswa dengan kecerdasan sedang dan tinggi jadi satu, sedangkan di sekolah A, sebagian besar adalah siswa dengan kecerdasan tinggi. Solusinya adalah membandingkan siswa di sekolah yang sama.
Kasus 2. Membandingkan Tingkat
Penjualan
Misalnya kita membandingkan jumlah penjualan onderdil motor di toko-toko yang menyediakan pelayanan servis (Grup A) dan toko-toko yang tidak menyediakan (Grup B). Grup B ini biasanya dealer. Misalnya toko-toko di Grup A, jumlah penjualannya tiap hari adalah hampir stabil, misalnya 20 orderdil per hari, sedangkan toko-toko di Grup B tidak stabil, kadang 2 onderdil dalam satu hari tapi kadang 100 onderdil di hari lainnya.
Lha namanya dealer kan gitu.. kadang sepi, kadang ada permintaan banyak dari pengecer. Kondisi ini menyebabkan data tingkat penjualan variasinya beda.
Misalnya kita membandingkan jumlah penjualan onderdil motor di toko-toko yang menyediakan pelayanan servis (Grup A) dan toko-toko yang tidak menyediakan (Grup B). Grup B ini biasanya dealer. Misalnya toko-toko di Grup A, jumlah penjualannya tiap hari adalah hampir stabil, misalnya 20 orderdil per hari, sedangkan toko-toko di Grup B tidak stabil, kadang 2 onderdil dalam satu hari tapi kadang 100 onderdil di hari lainnya.
Lha namanya dealer kan gitu.. kadang sepi, kadang ada permintaan banyak dari pengecer. Kondisi ini menyebabkan data tingkat penjualan variasinya beda.
Kasus Lainnya :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar